Quantcast

Wednesday, December 21, 2016

#Leadership: Delegasi

5ceaac6af5b024703eedb0778309d91f
Kemarin saya sempat membaca sebuah artikel tentang delegasi tugas dalam manajemen yang dituliskan oleh seorang pimpinan sebuah perusahaan ternama di Amerika. Artikel yang dia tulis cukup singkat namun menarik perhatian saya karena saya sendiri mengalami kondisi tersebut bahkan beberapa waktu lalu baru saja terjadi.

Sebagai informasi, saya telah bekerja sebagai seorang manager/director di sebuah tempat kursus bahasa Inggris yang ternama selama kurang lebih 4 (empat) tahun, dimana dalam rentang waktu tersebut sudah pasti banyak pahit manis yang telah dialami. Artikel yang saya tuliskan ini bukan untuk mereka yang telah memiliki pengalaman lebih lama dari saya, tapi tentunya akan memberikan sudut berpikir yang bagus bagi anda yang baru saja memulai karir sebagai seorang manager atau director atau team leader.

Setiap manajer yang berhasil mengetahui bahwa untuk memperoleh hasil yang maksimal mereka harus melakukan yang terbaik, ini sudah menjadi rumusan pasti, terutama dalam mendelegasikan tugas. Kenyataannya ternyata ada banyak manager, director, team leader yang tidak melakukan pendelegasian tugas atau justru melakukan pemberian tugas dengan cara yang buruk atau salah. 

Jadi saya akan menyebutkan 4 alasan dasar kenapa mereka yang berada dalam level manajerial ini tidak mendelegasikan tugas kepada bawahan, sbb:

1. Takut
Anda mungkin tidak menyangka bahwa kata takut akan berada pada daftar paling atas, tapi memang mengejutkan, bahwa ketakutan adalah faktor yang sangat besar dan sering terjadi. Dan saya membagi menjadi 2 versi ketakutan dalam pendelegasian tugas.

Manager, team leader atau director yang takut mendelegasikan tugas, mengkhawatirkan bahwa orang yang diserahkan penugasan atau menerima tanggung jawab akan melakukan tugas tersebut secara tidak baik atau justru sebaliknya, mereka akan melakukan lebih baik dari yang para pimpinan mereka lakukan sehingga para pimpinan akan terlihat buruk.

Jika anda seorang pimpinan di sebuah perusahaan, perusahaan apapun itu, tanyakan pada diri anda, ketakutan yang muncul adalah nyata atau hanya dibuat-buat? Jika reputasi personal anda yang dianggap lebih penting, maka ketakutan anda dikendalikan oleh egosentris pribadi anda.

Seorang pimpinan bagaimanapun akan tetap menerima akibat dari setiap pekerjaan yang didelegasikan, entah berakhir baik atau buruk. Yang paling penting adalah bagaimana anda melakukan kontrol dan pengawasan terhadap proses pengerjaan tugas. Asistensi dari anda tentunya akan memberikan anda ruang kendali tersendiri atas pikiran anda, anda dapat mengontrol ketakutan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih positif.

Jika bawahan anda terlihat lemah, awasi mereka, kontrol dan berikan saran dan masukan. Ikuti Key Performance Indicator dan SOP yang ada. Namun jika dengan kondisi seperti itu bawahan anda masih belum dapat mengerjakan tugas dengan baik, anda harus mempertimbangkan mengenai kepantasan orang tersebut bekerja di level tersebut dibandingkan dengan tugas yang diberikan, apakah terlalu berat, atau memang secara keahlian masih belum mencukupi. Anda bisa menentukan akan memberikan asistensi tambahan berupa pelatihan keahlian tertentu, atau membantunya mengerjakan tugas tersebut bersama. Dan saya ingatkan, ini seharusnya sudah menjadi bagian dari tugas anda sebagai seorang pimpinan terhadap bawahan. Namun jika ternyata pendelegasian terhubung dengan tenggat waktu yang sudah dekat, anda mungkin harus berpikir untuk memberikan tugas tersebut kepada orang lain yang lebih mampu.

Sebaliknya, jika pekerja anda ternyata memiliki kemampuan yang bagus dan pada akhirnya bisa mengerjakan tugas bahkan dalam tekanan sekalipun, jika anda sudah melakukan asistensi dengan baik, seharusnya anda sudah tidak perlu lagi merasa takut terlihat lemah. Jika masih muncul ketakutan, ada yang tidak beres dengan pikiran anda, saya pikir, sudah waktunya berbenah. 
 
2. Tidak tahu cara mendelegasikan tugas
Mengejutkan, banyak pimpinan ternyata tidak tahu bagaimana cara mendelegasikan tugas. Mungkin karena mereka tidak pernah melihat pendelegasian dilakukan secara efektif sebelumnya. Terlihat seperti pendelegasian yang rumit dan detail sehingga mereka tidak dapat melihat kesempatan yang ada di depan mereka.

Mendelegasikan tugas dapat melalui diskusi secara langsung, mengirimkan surat elektronik kepada orang yang bersangkutan (yang mendapatkan tugas dan jika terdapat pengawas diatasnya atau rekan kerja yang memiliki level yang sama), melalui surat perintah tugas/delegasi, dst.

Pendelegasian yang baik sebaiknya harus dengan tercatat baik melalui surat maupun email tidak hanya melalui ucapan secara langsung kepada bawahan. Hal ini akan mempermudah bagi pimpinan untuk melakukan kontrol terhadap perkembangan pelaksanaan tugas.
 
3. Bermain aman
Anda mungkin sudah pernah mengalami hal ini, pun sama dengan saya. Terkadang saya berpikir bawahan saya cukup lambat dalam menyelesaikan tugas yang saya delegasikan, karena tidak sabar, saya akhirnya mengerjakan tigas tersebut. Terkadang hal tersebut bisa jadi benar, bisa juga jadi sangat salah. Kita terkadang lebih baik dalam beberapa hal dibanding orang lain. Pimpinan yang mencoba untuk menguasai segala pekerjaan dan keahlian adalah yang berpikir mereka bermain dengan aman. Kenyataannya, mereka mungkin telah menurunkan motivasi tim kerja dibawahnya. Saya kira, sebagai pimpinan saya atau anda dituntut untuk dapat memberikan motivasi kepada bawahan agar nyaman dalam bekerja, namun tetap produktif. 

Berdasarkan pengalaman pribadi saya tentunya menyenangkan bagi diri sendiri, seolah mempermudah dan membantu diri sendiri, karena saya sulit untuk mempercayai lagi bawahan yang sudah pernah gagal menjalankan tugas yang pernah saya berikan sebelumnya.

Seberat atau sekompleks apapun, tetap lakukan pendelegasian tugas, pertama, apalagi jika tugas tersebut adalah sudah menjadi bagian dari pekerjaan mereka, dan sebenarnya oleh karena itulah mereka bekerja di perusahaan anda. Kedua, sebagai pimpinan, anda juga memiliki tugas-tugas lain yang harus anda kerjakan, anda tentunya menjadi lebih produktif. Dengan pengawasan dan kontrol, maka sebenarnya perusahaan secara keseluruhan pun menjadi lebih produktif dan disinilah titik aman itu sendiri, tetap delegasikan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka. Tentunya anda tidak mau tugas anda terbengkelai karena anda mengerjakan tugas bawahan anda kan, mari bermain dengan aman.
 
4. Menghabiskan waktu
Oke, mari kalau boleh jujur. Mendelegasikan tugas, memang memakan waktu. Bagaimanapun, delegasi adalah investasi waktu itu sendiri. Artinya, jika satu tugas bisa didelegasikan ke orang lain, manajer akan bisa mengerjakan tugas lainnya dan tetap membawa perusahaan secara produktif.

Anda harus tetap tampil prima untuk tetap produktif, dan hal tersebut adalah kata kunci untuk membawa tim anda untuk berhasil.

Saya merasakan benar ketika bawahan saya mengalami perubahan karena turn over yang terjadi berkali-kali, ganti sana sini dan dalam waktu yang kadang klritis, pada saat perusahaan sedang promosi atau sedang dalam kondisi sangat membutuhkan tenaga ekstra. Dengan adanya tim baru yang masuk, masa transisi, masih probation, masih hijau, kemampuan yang belum dilapisi dengan pengalaman, rasanya sulit untuk mempercayakan bahkan untuk 30% saja, dan akhirnya takut tetap saja menghabiskan waktu karena harus melakukan pengawasan, training lagi dan lagi, berikan advice di sana-sini. Ohh tidak…

Mempercayakan dengan tetap mengontrol dan memberikan pengawasan akan tetap menjadi jalan dan solusi terbaik saat ini dalam hal memandaatkan waktu dengan baik dan tepat.

Nah, saya kira itu yang dapat saya sampaikan dalam tulisan kali ini. 

Saran lain saya, banyak membaca artikel yang dituliskan oleh para top CEO atau pimpinan berpengalaman yang lain melalui artikel di website mereka, mengikuti pelatihan manajerial (management), dan banyak praktik di lapangan akan sangat membantu kita semua untuk dapat menjadi top pimpinan nantinya. Di perusahaan apapun, sumber daya manusia selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para pimpinan dalam menjalankan operasional perusahaan. 

Dengan menjadi seorang delegator yang baik, sebenarnya anda justru belajar menjadi seorang pelatih, pemandu bakat, motivator sekaligus pengawas yang akan membantu bawahan anda mencapai kesuksesan. Definisi sukses bagi saya adlaah ketika anda dapat membantu bawahan anda berhasil, dan saya masih tetap meyakini hal tersebut. 


Selamat membaca dan menjadi pimpinan hebat di masa mendatang.
































Sunday, September 18, 2016

#Istilah: Niche

Penggunaan Niche

Ketika anda masuk ke dalam Mall atau supermarket, anda akan menemukan berbagai jenis segmentasi, mulai dari yang anda butuhkan sampai pada produk dan jasa yang mungkin baru dan tidak pernah terpikirkan untuk membelinya. Mungkin dulu kita masih menyebutnya dengan istilah TOSERBA yang merupakan singkatan dari toko serba ada, artinya ada banyak produk dan barang yang tersedia di dalam satu toko.

Berbeda ketika anda memasuki toko olahraga, toko pakaian anak, atau toko mainan di mana anda hanya menemukan produk dan jasa yang terhubung dengan penamaan toko tersebut. Jadi jangan berharap untuk menemukan alat kesehatan di toko bangunan atau alat-alat dapur di toko mainan anak.

Toko yang menjual produk yang lebih spesifik pun bisa kita temukan saat ini seperti toko –> toko pakaian –> toko pakaian muslim; atau toko –> toko komputer –-> toko laptop –> toko asesoris laptop.

Bagi anda yang suka wara-wiri di panggung jagad maya, sudah pasti tidak asing dengan hadirnya berbagai toko online yang menyediakan berbagai barang dan jasa seperti (alibaba)lazada, tokopedia, buka lapak, dst, atau mungkin situs yang secara umum melakukan kupas tuntas atau menayangkan tulisan-tulisan secara umum hingga khusus sebut saja seperti situs-situs berita yang menginformasikan mulai dari berita politik, ekonomi, sosial, budaya hingga olahraga dan bahkan sex. Tapi, tidak jarang juga anda pasti akan menemukan satu situs atau blog yang habis-habisan membahas satu hal saja seperti membahasa tentang neuro language program, tentang cara membuat blog dan memasarkannya, dst.

Apa itu Niche?

Ada begitu banyak situs maupun blog memberikan pengertian tentang arti niche. Dan dari situs-situs tersebut memberikan gambaran yang beragam, meskipun pada akhirnya merujuk pada satu arti. Jadi menurut saya, kita hanya perlu mengambil benang merahnya saja dengan mengambil yang memudahkan kita untuk mengerti apa sebenarnya arti niche.

Jika anda mencoba mencari arti niche di wikipedia, anda akan menemukan disambiguitas karena secara otomatis akan dilarikan ke dalam pengertian di dunia ekologi, adalah sbb:

Dalam ekologi merujuk pada posisi unik yang ditempati oleh suatu spesies tertentu berdasarkan rentang fisik yang ditempati dan peranan yang dilakukan di dalam komunitasnya.

Sedangkan dari meriam-webster, niche memiliki arti sbb:

the situation in which a business's products or services can succeed by being sold to a particular kind or group of people

Silakan cek pengertian yang diberikan dari salah satu situs favorit saya evolution.about.com:

A niche is a term that is used in ecological biology to define an organism's role in an ecosystem. Not only does a niche include the environment a given organism lives in, it also includes the organism's "job" in that environment. A niche may also encompass what the organism eats, how it interacts with other living things or biotic factors, and also how it interacts with the non-living, or abiotic, parts of the environment as well.

Sebuah niche adalah terminologi yang digunakan dalam bab biologi – ekologi untuk mengartikan peranan sebuah organisme dalam sebuah ekosistem. Tidak hanya sebuah niche adalah termasuk lingkungan dimana organisme tersebut hidup, niche adalah juga termasuk pekerjaan yang dimiliki oleh organisme di dalam lingkungan tersebut. Niche menggambarkan apa yang dimakan oleh organisme, bagaimana oorganisme berinteraksi dengan benda-benda hidup lainnya atau faktor biotik lainnya, dan juga bagaimana organisme berinteraksi dengan benda-benda mati, atau abiotik, yang juga merupakan bagian dari lingkungan.

Sementara jika kita mengambil kamus dan mengartikan niche, hasilnya akan menjadi ceruk. Ceruk sendiri artinya menurut kbbi.web.id adalah sbb:

1 relung yang masuk ke dinding (tembok, tanah, dan sebagainya); lekuk, lubang; 2 lombong (dalam tambang); 3 gua (di gunung);4 ruang berpetak-petak (di lemari dan sebagainya); 5 sudut (pojok) di dapur (kamar, rumah, dan sebagainya); 6 lekuk (di geladak kapal dan sebagainya); 7 rongga (sela-sela dalam timbunan barang dan sebagainya); 8 serokan; teluk kecil; 9 sudut jalan; jalan kecil (simpangan dan sebagainya);

Sedangkan dalam dunia bisnis, marketing dan sales, arti dari niche yang saya dapatkan dari wikipedia adalah sbb:

A niche market[1] is the subset of the market on which a specific product is focused. The market niche defines as the product features aimed at satisfying specific market needs, as well as the price range, production quality and the demographics that is intended to impact. It is also a small market segment. For example, sports channels like STAR Sports,ESPN, STAR Cricket, and Fox Sports target a niche of sports enthusiasts.

Niche Pasar adalah bagian dari produk tertentu yang telah difokuskan. Niche pasar memiliki arti sebagai fitur produk yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu pasar, berupa kisaran harga, kualitas produk, dan demografi yang di akan dipengaruhi. Niche pasar dapat diartikan segmen kecil pasar. Sebagai contoh saluran olahraga seperti STAR Sports, ESPN, STAR Cricket, dan Fox Sports yang menargetkan niche penggemar olahraga.

Untuk anda yang gemar hobi menulis di blog dan memiliki website, pasti sudah mengetahui mengenai niche yang sangat berhubungan dengan peningkatan SEO (Search Engine Optimisation) karena pada akhirnya berpengaruh dengan jumlah pengunjung ke blog atau situs anda. niche berarti sebagai ceruk pasar yang berhubungan dengan satu permintaan tertentu atau spesifik atau unik.

Kesimpulannya, apapun bidang pekerjaan anda, niche terlihat memiliki arti yang beragam, sebenarnya memiliki persamaan makna. Dalam dunia ekologi adalah tentang sekumpulan atau sekelompok organisme, ekosistem dan cara hidupnya, sedangkan jika kita tarik ke dunia bisnis, maka berarti sekumpulan target market, habitat atau ekosistemnya, dan cara hidupnya. JIka ditarik ke dunia blogging dan website artinya menjadi sekelompok pembaca yang memiliki kebutuhan tertentu dan membutuhkan solusi tertentu.

Seperti halnya blog ini memiliki niche yang lebih besar, tidak terlalu spesifik karena memiliki beberapa topik yang dibahas seperti tentang bisnis, daya kemampuan otak dan pikiran, penemuan jati diri, pengetahuan umum, dst sehingga tidak hanya membahas tentang satu topik yang spesifik. Welcome to my Supermall, then.

Selamat membaca dan mendapatkan pemahaman baru.

#Marketing: Memulai Bisnis dengan Kartu Nama

Beberapa waktu yang lalu saya berjumpa dengan seorang sahabat. Dia adalah seorang IT Consultant di sebuah perusahaan yang saya pimpin.

Dia berkunjung ke rumah saya dan dalam obrolan ringan kami sempatkan berbincang mengenai niatnya memulai bisnis sendiri di masa mendatang untuk membuka sebuah toko komputer dan counter handphone.

Keluhannya saya kira sama dengan rata-rata orang pada umumnya, memulai dengan modal uang puluhan juta rupiah untuk membuka toko yang diinginkan. Darimana memperolehnya selain berhutang ke bank, mencari pinjaman ke investor, atau harus dengan menabung dan menunggu modal terkumpul. Cari jalan!!!

company_brand_naming

Modal Kartu Nama

Akhirnya tiba sebuah ide sederhana untuknya. Ya, "Kartu Nama".

Saya menuliskan beberapa langkah sebagai berikut:

#Nama

Pikirkan sebuah #nama yang akan digunakan untuk toko tersebut. Saya berikan beberapa karakter nama sbb:

  • Tidak terlalu panjang
  • Mudah diingat dan dibaca
  • Unik dan berkarakter
  • Mengandung tujuan dan makna khusus

#Logo

Lalu saya memintanya untuk memikirkan sebuah logo. Saya berikan dasar pemikiran logo sbb:

  • bentuk yang unik
  • berkarakter sesuai dengan nama
  • unik dan menarik
  • pemilihan corak warna yang mudah diterima mata dan mudah diterjemahkan

#Tujuan

Pada langkah berikutnya, saya memintanya untuk mulai memikirkan tujuan dari pendirian toko. Saya urung memintanya membuat AD-ART toko dengan management tingkat dewa. Mulai dengan yang sederhana dulu sampai mengerti benar dasar-dasar pembuatan AD-ART.

Tujuan toko adalah maksud dari toko tersebut dibentuk. MIsalnya: Toko yang khusus menjual sparepart komputer atau handphone, jual beli pheriperal atau distributor, dan seterusnya.

#Kontak

Berikutnya adalah kontak atau nomor handphone, email dan atau sesuatu yang dapat digunakan untuk dihubungi. Saya memberikan beberapa syarat mudah sbb:

  • Nomor statis yang tidak diganti
  • Nomor yang mudah dihafalkan
  • Nomor yang unik atau memiliki arti simbolis seperti berakhiran kembar atau mengandung makna tertentu misal: 242 111, 085xxxxx5758, dan seterusnya.
  • Alamat email yang berhubungan dengan nama toko, nama pemilik


Mulai Menggunakan Kartu Nama

Konsistensi dan Keberanian

Saya teringat dengan seorang pebisnis yang dulunya adalah seorang arsitek namun justru kini jadi seorang miliarder. Saat terakhir saya berjumpa dengannya, saya mendapatkan sebuah cerita bagaimana dia memulai bisnisnya hanya dengan kartu nama. Hal yang dia sampaikan kepada saya pada saat itu adalah mengenai konsistensi dan keberanian.

Jika saya tidak konsisten dengan tujuan saya membuat toko distributor sparepart komputer, maka saya ngga akan pernah bahkan bisa seperti sekarang. Konsistensi artinya saja mejaga dengan baik arah dan tujuan saya agar tidak mudah berubah dan diubah oleh apapun dan siapapun. Saya harus konsisten.

Keberanian saya yang paling gila adalah ketika saya ngga punya toko, tapi waktu itu saya mengaku punya toko agar menang tender pengadaan komputer. Saya datangi salah satu toko dan bicara dengan pemilik toko. Saya tawarkan bagi hasil jika menang tender, tapi dengan syarat, saya harus akui saya pemilik toko ini. Dan hasilnya, saya menang tender itu. Saya hanya mau dan berani malu saat itu, tapi yang saya ingat, saya berani gila

Skala Prioritas

Membuat skala prioritas adalah hal paling penting dalam menjalankan bisnis. Jika disuruh memilih mengerjakan antara yang penting dan tidak penting, sudah pasti kita akan memilih untuk mengerjakan yang penting. Tapi jika kartu nama sudah mulai tersebar, calon-calon konsumen sudah mulai tahu dengan keberadaan bisnis kita, peluang mulai berdatangan, pesanan mulai ramai, maka semua hal akan menjadi penting.

Skala prioritas akan sangat membantu kita untuk dapat mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas secara tepat waktu. Beberapa hal yang terkait dengan skala prioritas yang harus diperhatikan adalah sbb:

  • Tingkat urgensi
  • Kesempatan/Peluang yang dimiliki
  • Pertimbangan munculnya kesempatan/peluang baru
  • Kemampuan diri

tabel skala prioritas

Kuadran 1 adalah yang mewakili kebutuhan paling penting dan mendesak untuk segera dipenuhi;

Kuadran 2 adalah yang mewakili kebutuhan yang penting namun tidak harus segera dipenuhi;

Kuadran 3 adalah yang mewakili kebutuhan yang kurang penting namun perlu segera dipenuhi;

Kuadran 4 adalah yang mewakili kebutuhan yang kurang penting dan kurang mendesak untuk dipenuhi;

Sedangkan cara untuk membuat skala prioritas dapat menggunakan cara sbb:

  • Menulis semua jenis kebutuhan yang diperlukan;
  • Menyusun secara urut kebutuhan sesuai dengan tingkat kepentingannya, mulai sangat penting hingga kurang penting;
  • Membuat perhitungan dana yang akan dibutuhkan;
  • Mengutamakan pemenuhan kebutuhan yang memiliki efek manfaat secara optimal

Konsistensi dan Fokus

Konsistensi dan fokus merupakan dua hal yang seharusnya dapat dijaga dari awal hingga perjalanan bisnis berlangsung. Konsistensi diperlukan karena untuk menjaga mental dan tubuh untuk tetap dapat produktif. Sedangkan fokus, digunakan untuk tetap pada garis-garis besar tujuan atau haluan bisnis yang sudah disiapkan.

Konsistensi berbeda dengan kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang atau persamaan dari tindakan dan cara berpikir dan motivasi diri dari awal hingga akhir. Konsistensi yang dimaksud adalah terus berusaha menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih tepat waktu, lebih bisa menyesuaikan diri dengan kondisi, dan tetap melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.

Seorang pelari tidak akan mengurangi kecepatan larinya dan tetap fokus pada tujuannya apalagi jika sudah semakin dekat dengan garis akhir / finis.

Kepercayaan diri

Konsumen mana yang mau membeli dari seorang penjual yang ragu dengan barang dan jasanya sendiri? Konsumen mana yang mau membeli dari seorang penjual yang tidak percaya diri?

Kita wajib mempercayai bahwa kita dapat menjadi problem solver bagi konsumen. Mereka yang memiliki kepercayaan terhadap diri dan produk serta jasa yang dimiliki akan membangkitkan kepercayaan bagi calon pembeli.

Membangun Relasi

Ketika kita menyebarkan kartu nama kita, kita seperti memberikan undangan kepada calon pembeli. Bisnis akan tumbuh menjadi lebih besar dengan cepat jika kita dapat membangun hubungan dengan baik dan terutama dengan mereka yang memiliki jaringan komunikasi dan sosial yang besar. Memang untuk memancing ikan yang besar membutuhkan kail yang besar, jadi pancinglah calon pembeli yang memiliki banyak relasi besar pula.

Selain itu, kita juga harus berfokus pada pelayanan yang baik agar pembeli bisa memberikan kepercayaan, membeli lagi dimasa yang akan datang dan bahkan untuk membantu menginformasikan bisnis kita kepada relasi yang dimilikinya. Masukkan hal ini ke dalam skala prioritas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Tercatat, 30% akan lebih sulit untuk mencari pembeli baru daripada mempertahankan pembeli yang ada. Namun ini kembali pada jenis bisnis kita. Jika produk atau jasa dari bisnis kita merupakan sesuatu yang tahan lama atau untuk menggunakannya memiliki tenggat waktu, artinya dalam sela-sela mereka masih menggunakan produk atau jasa kita, kita tidak boleh begitu saja kehilangan sentuhan dengan mereka. Tujuannya adalah memberikan kepuasan kepada pembeli agar mereka tidak kepincut dengan produk atau jasa tetangga.

Membangun relasi juga tidak hanya terjadi dengan pembeli atau pelanggan setia saja. Tapi juga wajib dilakukan dengan penyedia barang atau jasa yang kita gunakan. Tujuannya jelas adalah untuk mendapatkan kepercayaan, nilai loyalitas kita terhadap supplier atau penyedia produk dan jasa, sehingga dimungkinkan untuk kerja sama jangka panjang yang bagus.

 

Nah saya kira poin-poin tersebut di atas sudah mewakili sebagian besar aspek untuk memulai bisnis dengan kartu nama. Semoga ini bisa menjadi tambahan semangat untuk tidak menunda ide-ide bisnis bagi mereka yang belum memiliki modal awal besar untuk ketersediaan produk dan jasa. Ingat, ini baru dalam tahapan memulai, di depan masih ada banyak hal yang perlu dipelajari dalam perencanaan dan operasi bisnis, namun paling tidak dengan ini, kita sudah menjalankan 1 langkah pertama.

Selamat membaca dan memulai bisnis!!!

Sunday, September 11, 2016

#Self Reflection: Belajar dan Menjadi Produktif

oh-yeah-its-free

Waktu masih SMA, saya pikir tinggal melanjutkan kuliah, dapat pekerjaan dan selesai sudah waktu buat belajar. Ternyata, salah besar. Karena justru, begitu sudah bekerja ternyata belajar sesuatu yang baru sangat dituntut, apalagi jika kia bekerja di sebuah perusahaan yang punya nama, jika tidak tertinggal sudah.

Dengan adanya sosial media, saya pun jadi bisa melihat bahwa rekan-rekan saya semasa sekolah menengah atas dan kuliah pun masih terus belajar. Sebagian dari mereka ada yang sudah menyelesaikan tahapan Master Degree (keren yah), dan sebagian baru berencana (termasuk saya), dan sebagian lagi belajar dengan mengikuti kursus dan pelatihan-pelatihan.

Bagaimana dengan anda?

Belajar gratis!

Rasanya susah untuk mengatakan bahwa ada cara untuk belajar gratis, karena memang tidak ada yang praktis. Semua harus dengan usaha. Gratis pun tetap memerlukan usaha, meskipun tidak perlu mengeluarkan biaya, hanya menggunakan resource yang ada, dan cari resource yang gratisan.

Berikut tips yang bisa saya berikan untuk dapat belajar gratis:

Kumpulono wong kang soleh;

Kumpulilah orang soleh;

Ketika saya mendengarkan sayup-sayup lagu yang dinyanyikan istri saya untuk menudurkan si kecil, ada lirik yang menyebutkan berkumpullah dengan orang soleh.

Aha, itu yang ada dalam pikiran saya. Karena ternyata nasihat orang tua zaman dulu memang benar. Loh kok berkumpul dengan orang soleh?? Nah jangan gagal paham, mari coba artikan secara lebih general dengan orang soleh sama dengan orang pintar (bukan dukun yah).

Artinya dengan berkumpul dengan lebih banyak orang pintar, bermental sukses, memiliki motivasi kemajuan yang tinggi, penuh ide-ide yang inspiratif untuk melakukan perubahan, kita akan bisa belajar dengan mereka. Sebaliknya jika kita berkumpul dengan yang bukan seperti itu, hasilnya akan justru sebaliknya. Jadi jangan salah gaul.

Belajar gratis dari internet

Eranya digitalisasi, era smartphone, era 4G harusnya eranya belajar dong. Sayangnya memang saya lebih sering memergoki staff saya sendiri memutar lagu-lagu, main game, selfie dan upload, online shopping tiada henti atau menonton film (sangat tidak produktif).

Setidaknya, jika kita punya waktu 10 menit untuk menyelesaikan 1 artikel, bertambah sudah 1 ilmu pengetahuan dalam otak kita. Jadi coba sisihkan 10-30 menit untuk mencari artikel dari situs yang bisa menambah perbendaharaan kosa kata bisnis, keahlian dan bahkan motivasi. Apalagi jika ada fasilitas wifi gratisan dari kantor atau public place, harusnya belajar tambah semangat. Intinya, gunakan saja kata kunci, masukkan dalam search engine atau mesin pencarian, klik dan baca. Atau silakan unduh artikel atau video, lalu simpan, jadi pada saat longgar bisa kembali dibaca dan bisa punya perpustakaan digital sendiri kan. Mudah kan, yuk gunakan waktu secara lebih produktif.

Saya menemukan banyak resource gratisan kok. Dan apalagi jika anda punya modal bahasa Inggris atau paling tidak anda bisa gunakan translator. Anda bisa saja belajar di situs sosial media yang berisikan para professional dari antero dunia seperti linked in dan facebook. Saya sendiri menemukan ribuan artikel yang ditulis oleh mereka yang telah berpengalaman tentang leadership, manajemen, sales, marketing dan masih banyak lagi lainnya.

Baca buku di perpustakaan gratis

Tips terakhir, cari informasi dimana ada perpustakaan gratis di kota atau tempat anda. Atau paling tidak anda bisa pinjam buku yang teman anda punya dan anda tidak punya. Pemerintah biasanya menyediakan fasilitas perpustakaan offline secara gratis sehingga anda bisa belajar dari banyak buku yang tersedia.

Belajar dari pengalaman

Kok gitu? Ya karena memang gratis kan, kapan ada cerita kalau anda membayar pengalaman anda.

Belajar dari apa yang dikatakan oleh orang tua dan guru-guru saya, belajar dari pengalaman saya sendiri, teman sekolah, rekan kerja, atasan, adalah hal penting. Jangan terbiasa menolak apa yang dipercayakan kepada anda, apalagi jika diberikan kepercayaan oleh atasan. Selalu ada yang pertama, kalau gagal jadikan saja pembelajaran. Anda juga bisa belajar dari rekan kerja anda, baik buruk tinggal anda filter saja mana yang pantas anda jadikan masukan buat diri anda. Anda pun bisa belajar dari pengalaman masa lalu diri anda sendiri, atau dengan membaca lebih banyak biografi tokoh-tokoh dunia maupun lokal.

Hal paling penting dari semua hal diatas adalah, siapkan note atau catatan supaya anda bisa mengingat secara lebih rinci dan selalu memotivasi diri. Note adlaah hal penting bagi saya. Semua catatan penting saya ada dalam buku, komputer, flashdisk dan juga blog. Sewaktu-waktu saya bisa buka dan baca kembali. Dan saya tidak harus menunggu orang lain untuk menyemangati diri saya (saya mah apa atuh? hehehe). Artinya, kesadaran diri untuk menjadi lebih baik dan lebih sukses kedepannya harus terus dimotivasikan ke diri sendiri karena hanya diri kita yang mengerti bagaimana diri kita yang sebenarnya.

Demikian dari saya, selamat membaca, selamat mencari yang gratisan!!!

#Marketing: B2B, B2C, B2E dan C2C

ecommerce

Sangat menyenangkan ketika berbicara tentang konsep, tapi kalau tidak tahu, banyak sekali istilah-istilah keren yang bikin otak berasa penuh dan terkesan njlimet a.k.a rumit, apalagi penamaan dari berbagai kamus dan beda negara mungkin sudah beda istilah.

Nah kali ini mari sedikit membedah apa sih sebenarnya B2B, B2C, B2E, C2C. Saya yakin anda yang yang mencintai dan menjalankan pekerjaan anda sebagai marketing sudah sangat mengetahui apa definisi dan konsep dari masing-masing istilah tersebut, tapi bagi mereka yang baru join dalam perusahaan besar, ups, saya kira, lebih baik bisa mulai membaca dan mengerti terlebih dahulu, mari sama-sama belajar step by step.

What is B2B?

Kepanjangannya adalah Business to Business. Artinya lebih pada menggambarkan transaksi perdagangan antar perusahaan ke perusahaan, seperti antara produsen dan grosir, atau antara grosir dan pengecer, bukannya menjual langsung ke konsumen atau dari perusahaan ke konsumen.

Volume transaksi B2B jauh lebih besar dibandingkan volume transaksi B2C atau Business to Costumer. Alasan utama untuk ini adalah bahwa dalam rantai pasokan yang khas akan ada banyak transaksi yang melibatkan B2B sub-komponen atau bahan baku, dan hanya satu transaksi B2C, khususnya penjualan produk jadi ke konsumen akhir.

Sebagai contoh, sebuah produsen mobil membuat beberapa transaksi B2B seperti membeli ban, kaca untuk kaca jendela, dan selang karet untuk kendaraan. Transaksi terakhir, kendaraan yang sudah selesai dijual ke konsumen, adalah satu (B2C) transaksi.

What is B2C?

Kepanjangannya adalah Business to Customer seperti yang telah disebutkan diatas. Business-to-Customer konsepnya adalah  kegiatan yang menggambarkan pelayanan antara perusahaan dengan produk dan jasanya langsung kepada konsumen (Customer).

Sebagai contoh dari ransaksi B2C, seseorang akan membeli sepasang sepatu dari pengecer atau toko. Transaksi yang mengarah ke sepatu yang tersedia untuk pembelian, yaitu pembelian kulit, tali, karet, dll.

Perbedaannya dengan B2B seperti yang disampaikan oleh wikipedia adalah sbb:

B2B is often contrasted against business-to-consumer (B2C). In B2B commerce it is often the case that the parties to the relationship have comparable negotiating power, and even when they don't, each party typically involves professional staff and legal counsel in the negotiation of terms, whereas B2C is shaped to a far greater degree by economic implications of information asymmetry

B2B seringkali berlawanan kondisi dengan B2C. Dalam B2B seringkali pembeli yang berhubungan dengan perusahaan memiliki kekuatan negosiasi yangsama kuat dengan perusahaan penjual, dan kalaupun tidak, masing-masing pihak baik penjual maupun calon pembeli biasanya melibatkan tenaga ahli (profesional) dan staf legal dalam bernegosiasi, sedangkan dalam B2C dibentuk untuk tingkat yang jauh lebih besar dengan implikasi ekonomi dari informasi yang tidak sama (perusahaan memiliki daya negosiasi lebih besar dari calon pembeli/konsumen)

What about B2E?

Merupakan pemendekan kata dari Business to Employee. Biasanya merupakan electronic commerce yang menggunakan jaringan intrabusiness yang memungkinkan perusahaan untuk menyediakan produk / jasa kepada karyawan mereka.

Biasanya, perusahaan menggunakan jaringan untuk mengotomatisasi B2E karyawan perusahaan yang terkait dengan proses. Contohnya, MLM banyak menggunakan cara ini dan terbukti berhasil. Konsumen (Customer) berubah menjadi bagian dari perusahaan setelah membeli produk atau jasa dan kembali menjual atau menawarkan barang kepada konsumen lain dan seterusnya. Cara berjualan yang unik, tapi terbukti efektif karena mereka menjual kepada orang-orang dekat dan tentunya akan sangat mudah memberikan pengaruh untuk membeli. 

Atau mungkin kita bisa sebut bisnis franchise, retail dan dealer. Jika konsumen membutuhkan barang atau jasa, maka toko atau penjual eceran akan melakukan order barang terlebih dahulu ke perusahaan / produsen.

Then, What is C2C?

Merupakan kegiatan yang melibatkan perdagangan elektronik (atau difasilitasi elektronik), dimana transaksi antara konsumen melalui pihak ketiga. Sebuah contoh umum adalah lelang online, di mana konsumen melakukan posting atau upload produk atau jasa yang dijual kepada konsumen lain. Situs online hanya sebagai perantara, hanya sebagai media yang digunakan oleh konsumen penjual sebagai lapak, sedangkan bagi konsumen pembeli untuk mencari barang atau jasa yang dibutuhkan. Mereka tidak perlu memeriksa kualitas dari produk yang ditawarkan karena untuk melakukan penjualan di lapak online dari situs tertentu biasanya terdapat aturan-aturan yang ketat termasuk kriteria penjualan barang, aturan pengembalian barang, garansi, pengembalian uang dan bahkan sampai ke aturan pengiriman barang.

Perhatikan saat ini kita punya bisnis ecommerce seperti lazada, tokopedia, bukalapak dan situs sejenis lainnya yang memberikan konsumen kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan. Mereka berlomba-lomba untuk mempercantik situs mereka, mempercepat akses antar menu, registrasi, sampai pada kerjasama dengan lembaga perbankan untuk kemudahan pembayaran dan fasilitas diskon.

Baiklah, saya kira, sudah cukup rinci, kedepannya kita akan bahas lebih mendetail lagi per poinnya. Menarik bukan? Sudah ada ide kedepan mau coba bisnis apa?

Selamat membaca dan merencanakan masa depan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo